Pasar Smartphone Lesu Karena Pandemi

3 min read

Pasar Smartphone  Lesu Karena Pandemi

Infotechku.com – Tahun 2020 menjadi tahun yang lesu untuk pasar smartphone di Indonesia, bahkan dunia. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena protokol kesehatan seperti PSBB yang diterapkan, sehingga pengiriman sampe pembelian unit smartphone turun setiap waktunya.

Di tambah lagi toko retail smartphone yang berdomisil di Kota-kota besar pun menurun karena jumlah orang yang terjangkit virus corona semakin meningkat  sehingga PSBB diperketat dan toko-toko retail tersebut pun tutup sementara karena tidak adanya daya beli.

Semua ini berawal ketika Corona masuk di Indonesia pada akhir Februari sampai awal pertengahan Maret, PSBB perdana yang pertama kali dilakukan membuat pasar smartphone di Indonesia menurun. Sebelum menilik pasar smartphone yang berada di Indonesia, kita tilik terlebih dahulu pasar smartphone global yang sama-sama menurun juga penjualannya.

Dilansir dari inet.detik.com pada tanggal 03 Maret 2020 Menurut International Data Corporation (IDC) selama paruh pertama tahun 2020 pengapalan smartphone dunia menurun 10,6%. Mewabahnya coronavirus yang terjadi pada awal tahun 2020 telah membuat pesta teknologi sekelas MWC 2020 Barcelona batal. Biasanya di ajang tersebut diperkenalkan berbagai inovasi dan smartphone terbaru.

Namun para peserta berduyun-duyun membatalkan diri turut berpartisipasi di MWC 2020. Mereka pun menggelar peluncuran secara online, bahkan ada yang ditunda dan belum jelas sesi pengenalan produk terbarunya.

Corona juga membuat toko-toko retail tutup, seperti yang terjadi di China. Apple hingga Samsung memutuskan untuk menutup toko dengan alasan keamanan.

IDC Indonesia melihat perlambatan pasar terasa sekitar bulan Maret ketika pemerintah Indonesia menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang membuat penutupan outlet ritel. Ini mengakibatkan permintaan smartphone jadi lebih rendah.

“Ketika Ramadhan semakin dekat dan dengan penyebaran pandemi COVID-19 masih belum dapat diatasi di dalam negeri, pasar smartphone Indonesia akan terus mengalami gejolak yang disebabkan oleh berbagai faktor ekonomi hingga 3Q20,” kata Risky Febrian, Analis Pasar IDC Indonesia.

“Meskipun ada turbulensi, implementasi peraturan registrasi identitas perangkat seluler internasional (IMEI) menjadi faktor positif yang berkelanjutan untuk industri smartphone lokal karena bertujuan untuk mengurangi impor ilegal dan mempromosikan konsumsi smartphone yang dibuat secara lokal di Indonesia. Ini akan menguntungkan industri lokal dalam jangka panjang,” tambah Rizky.

semester pertama tahun ini, IDC menyebutkan pengiriman smartphone anjlok 18,2%, akibat dampak ekonomi makro dari merebaknya virus corona yang terus mempengaruhi pengeluaran konsumen.

Kondisi suram pasar smartphone ini tidak akan cerah pada tahun 2020. IDC mengungkapkan momen pertumbuhan kembali pengapalan ponsel diperkirakan terjadi pada kuartal pertama 2021.

“Lockdown secara nasional dan meningkatnya pengangguran telah mengurangi keyakinan konsumen dan memprioritaskan kembali pengeluaran untuk barang-barang penting, secara langsung pada penyerapan smartphone dalam jangka pendek,” tutur Sangeetika Srivastava, senior research analyst dari IDC.

Sebagian besar pabrik-pabrik di sana telah kembali beroperasi, walau ada pembatasan perjalanan dan logistik. IDC memperkirakan pasar domestik di China hanya menurun satu digit pada tahun 2020.

Sebaliknya, pasar di Eropa yang akan terpukul akibat pandemi COVID-19, seperti di Italia dan Spanyol yang bisa menyebabkan penurunan dua digit pada tahun ini.

IDC pun berharap kepada para vendor untuk memutar strategi yang tepat, misalnya peluncuran dan membentuk kerja sama yang kuat dengan e-Commerce.

 Sepanjang kuartal kedua tahun ini terjadi penurunan sebesar 26% dari periode yang sama 2019.

Demikian diungkap perusahaan riset IDC. Menurut mereka dampak ekonomi dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama pandemi  Covid-19 mengakibatkan pengiriman smartphone sepanjang April hingga Juni merosot.

Penurunan tersebut, kata IDC, menjadi rekor terendah sejak 2016. Tercatat kuartal kedua 2020 ini hanya 7,1 juta smartphoone yang dikapalkan, menurun 3% dari kuartal pertama tahun ini.

Tapi kabar baiknya, IDC melihat adanya pemulihan pasar pada bulan Juni setelah PSBB dilonggarkan. Selain itu, ponsel dengan harga Rp 1,5 juta – Rp 3 juta melonjak drastis.

Pasalnya ponsel tersebut banyak dicari masyarakat untuk digunakan belajar online . Kenaikan tersebut membuat pangsa pasar ponsel low-end menjadi 75%, meningkat dari 48% tahun lalu.

Kendati sempat terlihat adanya tanda-tanda pemulihan, meningkatnya angka kasus baru COVID-19 bikin ketidakpastian pasar. Sehingga IDC memperkirakan pemulihan pasar ponsel bisa lebih lambat, lebih-lebih pemerintah kembali menerapkan PSBB.

Dalam laporannya, IDC turut mengungkap lima penguasa pasar sepanjang kuartal kedua 2020. Mereka adalah:


1. Vivo

Vivo berhasil mempertahankan posisinya di kuartal pertama sebagai raja ponsel di Tanah Air. Keberhasilan Vivo lantaran kuatnya di segmen low end.

Ini ditambah lagi distribusi ke unorganized retail channel memberikan kontribusi besar. Toko-toko tersebut masih tetap beroperasi selama PSBB.

2. Oppo

Oppo dinilai IDC kuat di kategori mid-range (Rp 3-5 juta). Kepopuleran A52, A91, A92 berkontribusi pada penjualan ponsel Oppo selama kuartal kedua tahun ini.

3. Samsung

Keputusan Samsung untuk menjadikan seri M eksklusif ke pasar online pada kuartal kedua dinilai tepat. Meski jajaran produk lain tampak kesulitan bersaing dengan merek asal China di segmen mid range hingga low-end.

4. Xiaomi

Perusahan besutan Lei Jun ini diuntungkan dari permintaan besar terhadap ponsel harga terjangkau. Rdemi 8 A Pro telah memberikan kontribusi besar yang mengantarkan Xiomi sebagai pemimpin pasar di segmen ultra low end atau di bawah Rp 1,5 juta.

5. Realme

Kehadiran Narzo yang menawarkan kemampuan gaming dengan harga terjangkau memberi dampak positif bagi Realme. Namun IDC melihat adanya penurunan pengiriman pada dua kuartal tahun ini lantaran terbatasnya pasokan.

Lembaga riset IDC memprediksi pasar smartphone akan pulih pada 2022. Menurut Ryan Reith dari IDC, handset 5G akan mendorong pertumbuhan di tahun-tahun mendatang karena terus menjadi prioritas OEM. Karena selama pandemi ini mereka telah mengurangi rencana produksinya.

Sebagian besar memangkas biaya pada perangkat 4G karena mereka memperkirakan pasar negara maju akan didominasi oleh smartphone 5G sehingga menyisakan lebih sedikit ruang untuk yang pertama pada akhir tahun 2020.

Lantaran adanya krisis ekonomi, rata-rata harga jual (ASP) perangkat 5G akan terus turun pada tahun 2020 dan seterusnya. Bahkan pada kuartal terakhir, 43% handset 5G yang dijual di China sudah dijual dengan harga di bawah USD 400.

IDC mengharapkan ASP smartphone 5G global mencapai USD 495 pada tahun 2023, yang pada gilirannya akan meningkatkan pangsa pasar handset 5G menjadi 50%.

Nabila Popal dari IDC mengatakan bahwa pasar ponsel pintar di seluruh dunia akan tumbuh 9% YoY pada tahun 2021 tetapi itu dikarenakan penurunan besar pada tahun 2020. Menurutnya, pemulihan yang sebenarnya tidak akan terjadi hingga tahun 2020. Perangkat 4G kelas entry level hingga kelas menengah akan memainkan peran penting karena mampu mencapai 80% pengiriman di pasar berkembang .

Sepuluh Game yang Tidak Akan Sama Tanpa Devil…

    Devil May Cry dirilis pada tahun 2001. Itu 19 tahun berlalu. Apa yang dimulai sebagai inkarnasi asli Resident Evil 4 berubah menjadi franchise...
adnin adnin
4 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *