Aksara Kawi segera Di Digitalisasi Melalui Unicode

2 min read

Infotechku.com – Estafet pengajuan aksara Kawi ke Unicode dalam rangka digitisasi aksara menemui titik terang setelah proposal yang diajukan pegiat aksara daerah Aditya Bayu Perdana dan Ilham Nurwansah itu diterima secara resmi oleh Unicode pada 29 September 2020. Selangkah lagi aksara Kawi bisa digunakan pada platform digital di seluruh dunia.

Sebagai informasi, Unicode adalah standar dalam dunia komputer untuk pengkodean (encoding) karakter tertulis dan teks yang mencakup hampir semua sistem penulisan yang ada di dunia. Aksara Kawi atau aksara Jawa Kuno adalah turunan aksara Brahmi historis yang digunakan di wilayah Asia Tenggara maritim sekitar abad ke-8 hingga ke-16.

Kaitannya dengan aksara, nantinya seluruh aksara Nusantara bisa diakses masyarakat lewat perangkat, seperti smartphone, komputer, laptop, layaknya aksara latin pada umumnya. Setelah diterima proposal pengajuan aksara Kawi yang digalakkan oleh Aditya Bayu Perdana dan Ilham Nurwansah, artinya tinggal selangkah lagi aksara Kawi di rilis terbaru Unicode berikutnya.

“Masih banyak aksara daerah Indonesia yang belum terdaftar di Unicode, maka kami akan terus berupaya mendorong aksara-aksara daerah daerah itu bisa terdaftar di Unicode. Kemarin kami mengajukan aksara Kawi, untuk aksara lainnya menyusul setelahnya,” ujar Ilham dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/10/2020).

Pengajuan proposal aksara Kawi ini dilakukan sebagai salah satu upaya mendigitisasikan aksara daerah di Indonesia.Lebih lanjut, Ilham yang merupakan Staf Digital Repository of Endangered and Affected Manuscript in Southeast Asia (Dreamsea) PPIM UIN Jakarta menuturkan, dalam pengajuan aksara daerah ke unicode diperlukan pemahaman dalam hal spesifik teknis aksara.

“Tidak hanya punya kemampuan membaca dan menulis saja, tetapi harus paham spesifikasi teknis aksara yang akan diajukan untuk platform digital, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyusun atau buah proposal. Belum lagi, harus mengikuti uji kelayakan proposal yang diajukan di hadapan tim Unicode secara langsung,” ungkapnya.

Aditya Bayu mengungkapkan, proposal preliminary (pendahuluan) pernah diajukan tahun 2012 oleh penulis asing, namun belum ada yang melanjutkan hingga kini. Sehingga apa yang dilakukannya saat ini bersifat meneruskan dari apa yang sudah dikerjakan sebelumnya.

Dalam penyusunan proposal aksara Kawi, Adit mengaku mengalami beberapa kendala yang cukup berarti bagi timnya. “Setiap huruf dan simbol individu dalam aksara perlu diberi contoh dan diberi asal-usul, ini gambar aksara dapat dari prasasti mana, sekarang disimpan di mana, dan lainnya.”

“Salah satu yang membuat aksara Kawi sulit adalah masa penggunaannya yang panjang,” ungkap Adit.Adit menambahkan, selama 800 tahun pemakaian, aksara Kawi memiliki berbagai macam variasi langgam dan ortografi.

Varian yang banyak ini perlu dijabarkan dalam proposal, dan ditambah pula kesulitan mendapat referensinya yang seringkali tersebar. Sehingga, perlu mengumpulkan potongan-potongan informasi dari berbagai sumber agar dokumentasi Kawi yang dituliskan dapat dipertanggungjawabkan.

Penyusunan proposal aksara Kawi yang lebih lengkap untuk Unicode mulai dilakukan Adit dan Ilham sejak Juli 2020 dan melalui dua kali proses “persidangan”, yaitu pada pertengahan Agustus dan September 2020.

“Pembahasan teknis proposal dilakukan secara langsung dan terbatas bersama tim kecil Unicode melalui konferensi video, dua kali kami harus ‘disidang’ jam 5 pagi, menyesuaikan dengan jadwal meeting Unicode, yang para panelisnya tersebar di berbagai negara,” tambah Ilham.

“Semoga Unicode mengetuk palu untuk mengesahkan aksara Kawi. Kita tunggu saja rilis Unicode terbaru berikutnya,” ungkap Adit optimis.

Setelah dokumen lengkap pada proposal aksara Kawi diterima Unicode, kini tinggal menunggu pengesahan. Disebutkan, bila tak ada halangan, maka tidak lama lagi code point aksara Kawi akan bisa digunakan pada platform digital di seluruh dunia.

Pengajuan proposal dan kabar baik terkait aksara Kawi yang akan digitalisasi ini diapresiasi oleh Chika Hayuningtyas, Staf Pelaksana Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi). Pandi sendiri sedang merancang Merajut Nusantara melalui digitalisasi aksara.

“Kami sangat menghargai upaya komunitas yang mendukung kegiatan digitalisasi aksara yang digagas PANDI sebagai salah satu bentuk komitmennya adalah sejak Oktober 2020″, Pandi sudah terdaftar sebagai salah satu member UNICODE, agar bisa lebih mudah memfasilitasi komunitas pegiat aksara di indonesia yang ingin menjalin komunikasi dengan UNICODE nantinya,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *